Depok, AFJNews.online – Duka mendalam menyayat hati dunia anak dan pendidikan di Indonesia bahkan luar Negeri. Ngada salah satu daerah di NTT sontak jadi perbincangan hangat di seluruh pelosok negeri ini bahkan luar Negeri.
“Ini merupakan Duka terdalam dan bisa jadi negara kita Darurat Keprihatinan Bangsa,” ungkap Agung Sedayu, AA SE selaku Kepala Media Center UMKM Seni Budaya dan Olahraga Prestasi Jawa Barat ini kepada awak media (4/2/2026) di sela kunjungan ke Depok.
*SURAT UNTUK MAMA RETI*
Entahlah, ketika saya menulis kisah ini perasaanku campur aduk. Miris, ironis , sedih… ga karuan lah.
Disaat bapak RI 1 membanggakan program MBGnya yang menghabiskan dana triliunan, disaat beliau memberikan statemen masyarakat Indonesia orang yang paling berbahagia di dunia, disaat beliau membayar triliunan untuk bergabung ke Board of Peace, di NTT ada anak kelas IV SD yang rela bunuh diri karena ibunya tidak sanggup untuk membelilkan pulpen dan buku dengan harga di bawah sepuluh ribu. Ya.. kalian ga salah, cuma sepuluh ribu rupiah.
Ini salah satu penggalan kemirisan netizen.
Di saat diskursus nasional riuh rendah membahas anggaran triliunan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah hantaman kesedihan datang dari pelosok Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. YBS (10), seorang bocah kelas IV SD, memilih mengakhiri hidupnya hanya karena ibunya tidak mampu memenuhi permintaan sederhana, buku tulis dan pulpen.
Ia tak meminta HP buat mabar, sepatu baru atau seragam. Sang anak hanya ingin buku tulis dan pulpen, harga totalnya tak sampai sepuluh ribu rupiah. Uang receh bagi sebagian orang. Uang parkir. Uang kopi. Uang lupa yang ke cuci disaku celana. Tapi tidak bagi YBS.
Namun bagi MGT (47), ibu dari korban, angka itu adalah kemewahan yang tak terjangkau. Sebagai janda yang menghidupi lima anak dengan bekerja serabutan dan bertani, ia terpaksa mengucapkan kalimat yang mematahkan hati anaknya, “Kita tidak punya uang,” ungkapnya dengan rasa sesal yang mendalam kepada awak media.
Ayah YBS telah meninggal bahkan sebelum ia lahir. Untuk meringankan beban, YBS tinggal bersama sang nenek. Bukan karena ia tak ingin dekat dengan ibunya, tapi karena hidup memang memaksa orang-orang miskin untuk pandai berbagi jarak.
Penolakan itu bukanlah karena rasa pelit, melainkan realitas perut yang kosong. Namun bagi YBS, ketiadaan buku dan pena adalah ketiadaan masa depan di sekolahnya.
YBS meninggalkan sepucuk surat pendek yang ditulis tangan di atas secarik kertas. Polisi telah mencocokkan tulisan tersebut dengan buku-buku sekolahnya, hasilnya identik. Surat itu bukan berisi kemarahan, melainkan kepasrahan yang luar biasa dewasa untuk anak seusianya.
Berikut isi surat YBS kepada ibunya (MGT)
Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti), Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)
Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee), Molo Mama (Selamat tinggal mama).
Dalam suratnya yang menggunakan bahasa daerah Bajawa, YBS meminta ibunya untuk tidak menangis dan tidak mencarinya lagi. Ia menyebut ibunya “pelit sekali” (Mama Galo Zee) sebuah ungkapan kepolosan anak kecil yang tidak memahami bahwa kemiskinan struktural lah yang sebenarnya pelit kepadanya, bukan sang ibu.
Tragedi ini terjadi di dahan pohon cengkeh, tak jauh dari pondok tempat YBS tinggal bersama neneknya yang sudah renta (80 tahun). YBS dikirim tinggal bersama sang nenek untuk mengurangi beban ekonomi ibunya. Ia tumbuh tanpa pernah mengenal sosok ayah yang meninggal saat ia masih dalam kandungan.
Kondisi rumah tangga yang memprihatinkan dan kurangnya kasih sayang yang utuh diduga menjadi akumulasi beban mental yang tak sanggup dipikul oleh bahu kecil anak berusia 10 tahun tersebut.
Kematian YBS menjadi tamparan keras bagi wajah pendidikan dan jaminan sosial Indonesia.
Bagaimana mungkin negara mendiskusikan anggaran makan gratis bernilai triliunan, sementara ada anak yang nyawanya melayang karena tidak mampu membeli alat tulis seharga kurang dari sepuluh ribu rupiah?
YBS tidak meninggal karena “pulpen”. Ia meninggal karena rasa malu dan putus asa akibat kemiskinan yang merampas martabatnya sebagai seorang pelajar. Kertas surat perpisahan itu adalah “buku tulis” terakhir yang ia gunakan untuk menuliskan narasi paling sedih dalam sejarah pendidikan Indonesia tahun ini.
YBS tidak mati karena ia lemah.
Ia pergi karena dunia di sekitarnya terlalu keras dan terlalu diam.
Dan mungkin, yang paling menyedihkan adalah ia sempat berpikir, kepergiannya adalah solusi.
Fenomena ini nantinya bisa jadi gunung es dan uniknya kejadian ini terjadi disaat pak Presiden mengadakan Rapat Kordinasi dengan seluruh Kepala daerah, Bupati dan Walikota Se Indonesia di Sentul 2/2 lalu.
“Kami selaku anak bangsa mengusulkan kepada Presiden untuk mengadakan Seruling alias Silaturahmi Warga Keliling di tiap RT atau dusun di seluruh Indonesia,” seru mantan penggiat Sosial di era tahun 2000an di Pala NTT ini.
“Saya tahu kondisi Ngada saat ini , tidak jauh berbeda ketika saya ditugaskan di Pala NTT di era Presiden Megawati Soekarnoputri,” tandas inisiator PPWI Peduli Jawa Barat ini.
“Sudah saatnya kita semua menjadi bangsa yang berempati kepada masyarakat sekitar kita agar tercipta masyarakat yang saling guyup di tiap wilayah,” pungkasnya kepada awak media.
Kejadian ini tentunya menjadi pengingat kita bersama agar selalu waspada di setiap lingkungan kita apakah ada tetangga atau warga yang perlu dibantu dan pengurus RT harus sigap jangan hanya menarik iuran warga atau sumbangan saja.

















