Bengkayang, AFJNews.Online – Ditengah heningnya aliran Sungai Semu’a, ada jeritan sunyi yang tak terdengar, jeritan alam yang ditinggalkan, dirusak, dan dikhianati.
Sungai yang dulu jernih dan mengalir tenang di Dusun Semu’a, Desa Suka Bangun, Kecamatan Sungai Betung, kini berubah menjadi saluran air keruh, nyaris mati, akibat kerakusan manusia (manusia tak bertanggungjawab).
Padahal, pada 2017 silam, Sungai Semu’a sempat menjadi (ANAK EMAS) Pemerintah Kabupaten Bengkayang, Lewat Dinas PUPR/Sumber Daya Air (SDA), anggaran sebesar Rp450 juta digelontorkan demi memulihkan fungsi ekologis sungai.
Tujuannya mulia: menahan banjir, mencegah pendangkalan, dan menghidupkan kembali harapan warga setempat.
Namun semua itu kini seperti dongeng indah yang dibakar habis oleh kenyataan pahit. Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang masih saja merajalela mengubah wajah sungai itu menjadi kubangan limbah. Lumpur dan material tambang menggantikan ikan dan kejernihan.
Air yang seharusnya jadi sumber kehidupan, kini jadi racun yang mengendap didasarnya.
“Mau bagaimana lagi, sungai kami sudah mati,” ujar salah satu warga dengan nada getir dan bersedih, Warga hanya bisa menatap pasrah saat aliran air yang dulunya menjadi sumber irigasi pertanian, kini tak lebih dari jejak nostalgia yang terbelenggu.
Lebih memilukan, hingga berita ini diturunkan, tak ada langkah nyata dari aparat atau pemerintah untuk menghentikan kejahatan lingkungan ini. Aktivitas PETI seperti hantu yang tak tersentuh hukum, padahal dampaknya nyata, lingkungan rusak, pertanian terancam, dan sumber air bersih lenyap tak bertuan.
Sementara pemerintah terkesan tutup mata, masyarakat dan aktivis lingkungan berteriak meminta keadilan. Bukan hanya untuk Sungai Semu’a, tapi untuk masa depan generasi yang mungkin tak akan pernah tahu seperti apa rasanya mandi di sungai yang bersih.
Pertanyaan Publik:
– Apakah uang ratusan juta itu hanya membeli waktu sesaat?
– Ataukah kita sedang menyaksikan bukti nyata bahwa emas lebih berharga daripada kehidupan?