Batam, AFJNews.Online – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) DPD Kepulauan Riau mulai menyiapkan langkah terstruktur untuk menjawab persoalan distribusi pupuk dan bibit, stabilitas harga hasil pertanian, serta keterbatasan infrastruktur pertanian di wilayah kepulauan. Minggu (08/02/2026)
Hal itu disampaikan Budi Lesmana, Caretaker Kaderisasi dan Keanggotaan HKTI DPD Kepri, saat menjawab berbagai pertanyaan peserta terkait strategi HKTI ke depan.
Budi menjelaskan, pembenahan distribusi pupuk dan bibit akan dimulai dari pendataan ulang Kelompok Tani (Poktan) di seluruh wilayah Kepri.
“Ini menjadi salah satu tugas awal kami di HKTI. Kami akan mendata Poktan yang aktif, lalu menyesuaikan dengan data pengajuan subsidi 2025,” ujarnya.
HKTI telah berkomunikasi dengan Pupuk Indonesia terkait program ketahanan pangan. Ke depan, HKTI berencana mengajukan tambahan kuota pupuk berdasarkan hasil riset dan data riil di lapangan.
Pendataan dilakukan melalui sistem aplikasi berbasis barcode untuk memastikan data Poktan di lima kabupaten dan dua kota di Kepri lebih akurat.
Dalam distribusi, HKTI akan menggerakkan struktur organisasi hingga tingkat daerah, termasuk DPC dan GACP, serta membentuk unit bernama “Kios Pangan”.
“Kios Pangan ini konsepnya mirip koperasi, tapi lebih fokus teknis pada kebutuhan petani,” jelas Budi.
Sementara itu, perwakilan pembicara lainnya menambahkan bahwa pemerataan distribusi bisa dikawal melalui RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok).
“Dari RDKK kita bisa lihat kebutuhan riil tiap wilayah. Kalau ada ketimpangan antar kecamatan, itu bisa disesuaikan berdasarkan data tersebut,” ujarnya.
Menjawab soal harga hasil panen, Budi menegaskan HKTI mengusung program hilirisasi sebagai strategi utama meningkatkan nilai jual produk pertanian.
Melalui pendataan digital, HKTI akan memetakan komoditas unggulan Kepri seperti cabai, jagung, kangkung, dan ubi.
“Hasil panen tidak langsung dijual mentah, tapi diolah menjadi setengah jadi atau produk kemasan agar nilai jualnya lebih tinggi,” katanya.
Pengembangan industri pakan untuk hilirisasi ayam petelur dan pedaging
Kerja sama pasar dengan hotel, mal, dan pasar modern
Skema pengemasan produk agar lebih menarik secara komersial
Langkah ini dinilai tidak hanya meningkatkan harga jual, tetapi juga membantu menjaga stabilitas pasokan dan inflasi pangan.
Terkait keterbatasan infrastruktur pertanian, terutama di Batam dan wilayah pulau, HKTI mengakui kondisi lahan menjadi tantangan tersendiri.
Namun di daerah lain seperti Bintan, Karimun, dan Lingga, potensi lahan dinilai masih luas. Bahkan terdapat dukungan lahan hingga 250 hektare yang ditawarkan untuk dikelola bersama HKTI.
Untuk wilayah Batam, HKTI tengah melakukan evaluasi serta mendorong pembahasan regulasi melalui forum diskusi (FGD).
“Kami akan rangkum data dari Poktan untuk diajukan ke dinas terkait, BP Batam, dan pihak swasta agar bisa bekerja sama memajukan sektor pertanian,” jelas Budi.
Pendekatan kemitraan ini diharapkan dapat membuka akses lahan, sarana produksi, dan dukungan infrastruktur secara bertahap.
HKTI Perkuat Peran sebagai Penghubung Petani dan Pemangku Kepentingan
Budi menegaskan HKTI ingin menjadi penghubung aktif antara petani dan berbagai pihak, agar kebijakan dan program benar-benar berbasis kebutuhan lapangan.
“Semua langkah ini bertujuan agar kebutuhan dasar petani terpenuhi, harga jual lebih baik, dan pertanian Kepri bisa tumbuh lebih maju,” tutupnya.
Beranda
Nasional
HKTI Kepri Siapkan Sistem Data, Hilirisasi, dan Kemitraan Lahan untuk Jawab Tantangan Petani
HKTI Kepri Siapkan Sistem Data, Hilirisasi, dan Kemitraan Lahan untuk Jawab Tantangan Petani
Redaksi3 min baca

















