MEDAN, Afjnews.online – Ketidakhadiran Bupati Labuhanbatu Selatan, Fery Sahputra Simatupang, dalam peringatan Milad ke-36 Ikatan Keluarga Labuhanbatu (IKLAB) Raya yang digelar meriah di Aula Universitas Imelda Medan, Minggu (19/7/2026), menuai sorotan tajam. Banyak pihak menilai ketidakhadiran tanpa alasan resmi yang disampaikan ini mencerminkan sikap kurang menghargai sejarah, warisan perjuangan, serta nilai-nilai persaudaraan yang menjadi pondasi pembangunan daerah.
Sikap ini pun terlihat kontras dengan kepala daerah lainnya di wilayah Labuhanbatu Raya. Bupati Kabupaten Labuhanbatu dan Bupati Labuhanbatu Utara sama-sama menunjuk wakilnya untuk hadir dalam acara sakral tersebut. Terlihat di lokasi acara Wakil Bupati Labuhanbatu H. Jamri, ST., dan Wakil Bupati Labuhanbatu Utara, Dr. Syamsul Tanjung, hadir bersama ratusan warga perantauan serta tokoh masyarakat se-Labuhanbatu Raya.
Ketua Umum IKLAB Raya, Drs. H. Rivai Nasution, M.M., menyampaikan kekecewaannya secara terbuka kepada awak media, Minggu (19/7/2026). Ia menegaskan kehadiran kepala daerah bukan sekadar formalitas protokoler, melainkan bentuk penghormatan terhadap akar sejarah wilayah yang mereka pimpin saat ini.
“Pemekaran Labuhanbatu Raya menjadi tiga kabupaten, Labuhanbatu, Labura, dan Labusel, tidak terlepas dari gagasan, perjuangan, dan tetesan keringat para tokoh serta senior yang bernaung di bawah IKLAB Raya,” ujar Rivai dengan tegas.
Ia menambahkan, rangkaian milad kali ini diawali dengan kegiatan ziarah ke makam para tokoh pemekar wilayah. Kegiatan tersebut dirancang khusus sebagai pengingat historis bagi generasi penerus, termasuk para kepala daerah yang kini menikmati hasil dari perjuangan pemekaran tersebut. Oleh karena itu, ketidakhadiran Bupati Labusel dinilai sebagai bentuk kurangnya partisipasi dan penghargaan terhadap sejarah daerah sendiri.
Nada kritis senada juga disampaikan Penasehat IKLAB Raya sekaligus mantan Kepala BPSDM Provinsi Sumatera Utara, Prof. Dr. Ir. Zainuddin. Meski memuji kesuksesan acara dalam mempererat persatuan budaya, ia mengingatkan pentingnya komunikasi dua arah yang sehat antara kepala daerah dan elemen masyarakat.
“Kita mendoakan agar Pemkab Labusel terus maju dan masyarakatnya berkembang. Namun, kepala daerah juga harus lebih peduli dan membangun komunikasi yang baik dengan organisasi IKLAB Raya yang memiliki akar sejarah kuat,” tandas Zainuddin.
Sementara itu, Penasehat IKLAB Raya yang juga mantan pejabat Pemprov Sumut, Drs. H.M. Yusuf, M.M., mendesak agar kritik dari masyarakat ini dijadikan bahan evaluasi menyeluruh bagi seluruh kepala daerah di wilayah Labuhanbatu Raya, khususnya Bupati Labusel. Menurut Yusuf, seorang pemimpin wajib menghadapi persoalan daerah secara terbuka dan responsif.
“Segala persoalan daerah wajib dijawab secara terbuka, transparan, dan sesuai dengan mekanisme hukum yang berlaku, bukan dengan menghindari forum-forum strategis warga daerah,” tegas Yusuf.
Acara milad ini turut dihadiri perwakilan Gubernur Sumatera Utara yakni Kepala BPSDM Pemprovsu, perwakilan Wali Kota Medan yaitu Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM, serta Ketua Dewan Penasehat IKLAB Raya yang juga mantan Sekdaprovsu, Prof. Dr. Ir. Hj. R. Sabrina, M.Si.
Perlu diketahui, IKLAB Raya merupakan organisasi persaudaraan yang lahir dari perjuangan panjang tokoh-tokoh masyarakat Labuhanbatu Raya, yang berperan penting dalam memperjuangkan pembentukan Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Labuhanbatu Utara. Sepanjang 36 tahun berdiri, IKLAB Raya senantiasa menjadi wadah pemersatu tiga kabupaten di wilayah Labuhanbatu, serta menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam menjaga identitas dan kearifan lokal.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Selatan maupun Bupati terkait alasan ketidakhadiran pada acara tersebut.
Masyarakat berharap Bupati Labuhanbatu Selatan dapat segera merespons sorotan ini, sekaligus menyadari pentingnya menjaga hubungan baik dengan wadah yang memiliki nilai sejarah tinggi bagi seluruh masyarakat Labuhanbatu Raya. Pemimpin daerah diharapkan mampu menjadi perekat persatuan, bukan justru menjauh dari nilai-nilai yang menyatukan masyarakatnya.

















